Cara Memperlakukan Orang Lain

Dulu orang sering mengatakan bahwa cara terbaik untuk memperlakukan orang lain adalah dengan menganggap orang lain itu seperti kita. Atau dengan kata lain, memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Misalnya kalau kita tidak suka dicubit karena kita tau kalau dicubit itu sakit, maka jangan pernah mencubit orang lain.

Cara berpikir seperti itu hampir selalu diajarkan oleh guru Sekolah Dasar kita. Memang tidak ada yang salah dengan cara berpikir seperti itu. Karena dengan begitu, seorang anak dilatih untuk berpikir dua kali sebelum melakukan hal buruk kepada teman atau orang lain.

Bahkan cara berpikir seperti itu sampai sekarang masih tetap dianggap ‘satu-satunya’ cara untuk memahami dengan baik suatu kondisi orang lain hingga menimbulkan empati. Misalnya ada tetangga dengan kondisi bergigi tonggos, pasti orang tua akan langsung menasehati anaknya untuk tidak mengejek atau mempermainkan orang tersebut. Benarkah cara seperti ini?

Sepintas memang tidak ada yang salah, tapi sebenarnya cara ini masih standar. Artinya ini adalah cara minimal memperlakukan orang lain.

 

Seiring berjalannya waktu, kemudian muncul suatu gagasan baru tentang cara memperlakukan orang lain yakni memperlakukan orang lain sesuai dengan apa yang diinginkan orang tersebut.

Cara berpikir seperti yang kedua ini merupakan pengembangan dari cara pertama tetapi lebih mengkhusukan pada kemauan masing-masing individu yang dihadapi. Atau bahasa kerennya diferensiasi.

Mengambil contoh yang sama seperti diatas, maka dengan cara ini seseorang harus mengetahui keinginan tetangga yang tonggos tersebut. Apakah dia menginginkan untuk dikasihani, atau lebih senang dianggap tidak tonggos, dan seterusnya.

Intinya dengan cara ini, seseorang harus memahami keinginan orang lain lebih dulu baru selanjutnya memperlakukan orang tersebut sesuai keinginannya.

 

 

 

Menurut saya kedua pemikiran itu masih belum pas. Walaupun memang keduanya tidak ada yang salah, toh ini hanya soal cara berpikir. Tetapi menurut saya, sekali lagi menurut saya, cara memperlakukan orang lain yang lebih baik adalah dengan memperlakukan orang lain sebaik yang kita bisa. Maksudnya adalah memberikan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan. Tidak perlu harus memenuhi keinginan orang yang kita perlakukan.

Cara ini tentunya juga dengan melakukan diferensiasi atau pengenalan karakter masing-masing orang, tetapi perlakuannya yang berbeda.

Dengan kembali menggunakan contoh tentang tetangga yang giginya tonggos, saya lebih suka memperlakukan dengan sebaik yang saya bisa. Misalnya saya bisa jadi mengejek tetangga saya yang tonggos tersebut (tentunya terlebih dahulu tau karakternya) walaupun dia sebenarnya tidak terlalu suka diejek. Kenapa saya melakukan ini?, karena saya tau karakter tetangga saya yang tonggos tersebut tidak akan terlalu marah kalau saya ejek (selama tidak berlebihan), walaupun dia tidak mengharap itu. Karena saya yakin, apa yang kita harapkan belum tentu itu adalah benar-benar sesuatu yang kita harapkan.

Contoh paling simple, misalnya kita ngerjain teman yang ulang tahun dengan diikat ke pohon dan dilempari telor busuk plus tepung. Apakah teman kita suka diikat di pohon dan diperlakukan seperti itu? Saya rasa tidak. Tapi ketika kita tetap memperlakukan seperti itu, teman kita justru lebih senang.

Jadi jangan menganggap sesuatu yang membuat kita mangkel atau marah itu harus dihilangkan dari kehidupan kita. Karena kadang kita rindu dengan sakit yang tidak terlalu menyakitkan.